Kamis, 12 November 2015

Sosok



Mengelola sampah dengan larva lalat
Nama: Teddy Kristiadiu
 Lahir: Cimahi, 28 Desember 1964
 Pendidikan: Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta, tamat 1987
 Istri: Yati Hayati (42)
 Anak: - Widhia Ning Utami (22)
            - Aditya Pratiwi (19)
            - Arief Rahman (9)
            - Siti Muthia (6)

Ia merintis usaha ini dari nol,padahal sebelumnya ia bekerja di sebuah jasa  pelayaran di lingkungan pengeboran minyak lepas pantai milik perusahaan Singapura. Namun ia lebih memilih untuk keluar dan serius pada usaha mengolah sampah ini, tentu saja keluarganya menolak.

Dengan tekat yang kuat ia tetap melanjutkan usaha barunya ini,melalui teknologi biokonversi, yakni mengonversi sampah organik menjadi pupuk cair dan padat menggunakan larva lalat. Cara ini bisa  menyelesaikan dengan mudah dan cepat problematika sampah khususnya sampah organik.Apalagi saat ini sampah di daerah Bandung mencapai 400-600 ton per hari.

Ia menggunakan lalat jenis larva lalat tentara hitam (Hermenia illucens), yang sudah dikenal di dunia sangat efektif sebagai makhluk pengurai sampah organik dan kotoran ternak.Sistem kerja lalat ini yang begitu cepat dapat mengurai sampah dengan waktu satu sampai tiga hari. Sehingga tidak perlu menunggu sampah sampai bau busuk yang tentunya  sangat menyengat. 

Dengan modal membuat tempat pemrosesan sederhana beratap terpal di Kompleks Antabaru II, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung . Larva ini dapat juga mengurai sampah tanpa henti sampai tahap metamorfosis berikutnya, juga akan mendominasi dan menurunkan perkembangan larva dan lalat lain, seperti lalat hijau.

Lalat tentara hitam ini juga dapat mengurangi perkembangan lalat pembawa penyakit. Perkembangan lalat ini pun tergolong cepat bahkan betina dapat bertelur  500-900 butir. Lalat ini mempunyai pula peningkatan kemampuan reproduksi hingga ratusan kali lipat dalam 50 hari hingga mampu melebihi jumlah produksi sampah organik.

Dari cairan larva ini dapat menghasilkan pupuk cair seharga Rp 3.000 per liter dan larva dewasa untuk  ternak Rp 5.000 per kilogram,harga ini jauh di bawah harga pasar harapannya  agar bisa membantu para petani  mendapatkan pupuk dan pakan ternak berkualitas.

Ia sempat bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung supaya dapat dipasok sampah. Tapi lama-lama pemasok sampah tidak lancar sehingga ia pun harus mencari sendiri sampah-sampah itu hingga ke mall,restoran ,rumah tetangga,pasar.

Dan banyaknya masalah yang datang menyebabkan usaha nya ini terhenti. Namun dia kembali bekerja sama dengan PD Kebersihan Kota Bandung mulai Januari 2015. Teddy mendapat dukungan investor asal Korea yang menjanjikan modal Rp 2,6 miliar. Tahap pertama telah dikucurkan sekitar Rp 150 juta.

Pihak PD Kebersihan menyediakan bangunan berukuran 8 meter x 12 meter di atas lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jelengkong seluas 9 hektar di Desa Warga Mekar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Letak TPA itu sekitar 20 kilometer dari Kota Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat.

Tapi pada akhirnya pasokan sampah dari PD berhenti lagi dan menyebabkan ribuan larva mati karena tidak mendapatkan makanan. Pada saat hal ini tidak berjalan dengan lancar investor dari Korea kembali ke negaranya. Walau begitu ia sampai saat ini masih gigih untuk melanjutkan usaha pengolahan sampah organik di TPA Jelengkong.

1 komentar:

  1. bagaimana saya bisa menghubungi Teddy Kristiadi ? brp telp nya?
    terima kasih...

    BalasHapus