Mengelola sampah dengan larva lalat
Nama: Teddy Kristiadiu
Lahir: Cimahi, 28 Desember 1964
Pendidikan: Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta, tamat 1987
Istri: Yati Hayati (42)
Anak: - Widhia Ning Utami (22)
- Aditya Pratiwi (19)
- Arief Rahman (9)
- Siti Muthia (6)
Nama: Teddy Kristiadiu
Lahir: Cimahi, 28 Desember 1964
Pendidikan: Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta, tamat 1987
Istri: Yati Hayati (42)
Anak: - Widhia Ning Utami (22)
- Aditya Pratiwi (19)
- Arief Rahman (9)
- Siti Muthia (6)
Ia merintis usaha ini dari nol,padahal sebelumnya ia bekerja
di sebuah jasa pelayaran di lingkungan
pengeboran minyak lepas pantai milik perusahaan Singapura. Namun ia lebih
memilih untuk keluar dan serius pada usaha mengolah sampah ini, tentu saja
keluarganya menolak.
Dengan tekat yang kuat ia tetap melanjutkan usaha barunya
ini,melalui teknologi biokonversi, yakni mengonversi sampah organik menjadi
pupuk cair dan padat menggunakan larva lalat. Cara ini bisa menyelesaikan dengan mudah dan cepat
problematika sampah khususnya sampah organik.Apalagi saat ini sampah di daerah
Bandung mencapai 400-600 ton per hari.
Ia menggunakan lalat jenis larva lalat tentara hitam (Hermenia illucens),
yang sudah dikenal di dunia sangat efektif sebagai makhluk pengurai sampah
organik dan kotoran ternak.Sistem kerja lalat ini yang begitu cepat dapat
mengurai sampah dengan waktu satu sampai tiga hari. Sehingga tidak perlu
menunggu sampah sampai bau busuk yang tentunya
sangat menyengat.
Dengan modal membuat tempat pemrosesan sederhana beratap
terpal di Kompleks Antabaru II, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan
Arcamanik, Kota Bandung . Larva ini dapat juga mengurai sampah tanpa henti
sampai tahap metamorfosis berikutnya, juga akan mendominasi dan menurunkan
perkembangan larva dan lalat lain, seperti lalat hijau.
Lalat tentara hitam ini juga dapat mengurangi perkembangan
lalat pembawa penyakit. Perkembangan lalat ini pun tergolong cepat bahkan betina
dapat bertelur 500-900 butir. Lalat ini
mempunyai pula peningkatan kemampuan reproduksi hingga ratusan kali lipat dalam
50 hari hingga mampu melebihi jumlah produksi sampah organik.
Dari cairan larva ini dapat menghasilkan pupuk cair seharga
Rp 3.000 per liter dan larva dewasa untuk ternak Rp 5.000 per kilogram,harga ini jauh di
bawah harga pasar harapannya agar bisa
membantu para petani mendapatkan pupuk
dan pakan ternak berkualitas.
Ia sempat bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Kebersihan
Kota Bandung supaya dapat dipasok sampah. Tapi lama-lama pemasok sampah tidak
lancar sehingga ia pun harus mencari sendiri sampah-sampah itu hingga ke mall,restoran
,rumah tetangga,pasar.
Dan banyaknya masalah yang datang menyebabkan usaha nya ini
terhenti. Namun dia kembali bekerja sama dengan PD Kebersihan Kota Bandung
mulai Januari 2015. Teddy mendapat dukungan investor asal Korea yang
menjanjikan modal Rp 2,6 miliar. Tahap pertama telah dikucurkan sekitar Rp 150
juta.
Pihak PD Kebersihan menyediakan bangunan berukuran 8 meter x
12 meter di atas lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jelengkong seluas 9 hektar
di Desa Warga Mekar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Letak TPA itu
sekitar 20 kilometer dari Kota Bandung, ibu kota Provinsi Jawa Barat.
Tapi pada akhirnya pasokan sampah dari PD berhenti lagi dan menyebabkan ribuan larva mati karena tidak mendapatkan makanan. Pada saat hal ini tidak berjalan dengan lancar investor dari Korea kembali ke negaranya. Walau begitu ia sampai saat ini masih gigih untuk melanjutkan usaha pengolahan sampah organik di TPA Jelengkong.
bagaimana saya bisa menghubungi Teddy Kristiadi ? brp telp nya?
BalasHapusterima kasih...